InJourney Destination Management (IDM) atau PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko berkolaborasi dengan Isha Foundation, organisasi nirlaba internasional menghadirkan program meditasi Miracle of Mind di kawasan Candi Prambanan, Minggu (12/10/2025). ANTARA/HO-IDM (HO)
Jakarta (MetroIndonesiaNews) - Kekhawatiran kerap dianggap sebagai emosi negatif yang perlu dihindari demi menjaga kesehatan mental, namun kajian yang dilansir Psychology Today menunjukkan rasa khawatir memiliki fungsi adaptif selama berada pada tingkat yang terkelola.
Psikolog klinis dari Pennsylvania State University, Amerika Serikat, Thomas D. Borkovec, menjelaskan kekhawatiran berfungsi layaknya “sabuk pengaman mental” yang membantu individu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Penelitiannya sejak awal 1980-an menunjukkan kekhawatiran mendorong seseorang menjalankan skenario “bagaimana jika” sebagai bentuk antisipasi terhadap ancaman atau hasil yang tidak diinginkan.
“Kekhawatiran bukan kesalahan dalam sistem pikiran manusia, melainkan mekanisme untuk menghadapi ketidakpastian,” sebagaimana dijelaskan dalam kajian tersebut.
Psikolog sosial dari University of California, Riverside, Amerika Serikat, Kate Sweeny, dalam penelitiannya pada 2017 menemukan tingkat kekhawatiran ringan hingga sedang dapat mendorong perilaku preventif dan kesiapan emosional menghadapi kabar buruk.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan individu dengan kecenderungan cemas memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap kesalahan dan perubahan di sekitarnya. Kewaspadaan ini membantu pengambilan keputusan selama tidak berkembang menjadi kecemasan berlebihan yang mengganggu aktivitas harian.
Psikolog klinis asal Inggris, Graham Davey dan Adrian Wells, menjelaskan kekhawatiran berkembang sebagai cara otak mengelola ketidakpastian dengan menjaga persoalan tetap aktif hingga ditemukan solusi. Pandangan tersebut diuraikan dalam kajian mereka berjudul “Worry and Its Psychological Disorders: Theory, Assessment and Treatment” yang diterbitkan pada 2006.
Meski demikian, psikolog mengingatkan pentingnya membedakan kekhawatiran yang konstruktif dan tidak produktif. Kekhawatiran yang sehat mendorong tindakan nyata, sedangkan kekhawatiran yang berulang tanpa arah berpotensi memicu kelelahan mental dan gangguan kecemasan.
Pendekatan mindfulness, yakni latihan psikologis yang melatih kesadaran terhadap pikiran, emosi, dan sensasi tubuh saat ini tanpa reaksi berlebihan, membantu individu mengelola kekhawatiran tanpa menghilangkannya. Penelitian Delgado dan rekan-rekannya pada 2010 yang dilansir Psychology Today menunjukkan peserta pelatihan mindfulness tetap mengalami kekhawatiran, namun mampu mengamatinya secara lebih objektif dan fokus pada pemecahan masalah.
(Sumber : Antara)